Mengintip Kehidupan Bisnis Mucikari Pontianak

Roling WTS dengan Melibatkan Jaringan

Pontianak,- Bisnis seks di dunia prostitusi memang berliku-liku, dengan peran penting para mucikari kucing-kucingan. Karenanya pola bisnis ini cukup sulit untuk diendus. Selain kerap menggunakan jasa orang ketiga untuk mengelolanya, tak jarang mereka masuk jaringan yang digunakan sebagai sarana untuk meroling ataupun mendatangkan wanita-wanita penjaja seks dari dalam dan luar daerah.

Menurut pengakuan sejumlah WTS yang ditemui, roling memang menjadi bagian dalam bisnis prostitusi di setiap daerah di Indonesia. Agar roling ini berjalan aman, diperlukan suatu jaringan yang akan bertugas menjadi penghubung hingga mencari lokasi yang tepat untuk menempatkan para WTS-WTS tersebut. Di pulau Jawa, jaringan ini memang memiliki banyak fungsi dan tugas. Tidak hanya mendatangkan atau meroling para WTS keberbagai daerah, tapi juga sudah merambah pada pengelolaan berbagai jenis lokalisasi dengan sistem kerja yang amat profesional. Tidak itu saja, bahkan orang-orang yang terlibat dalam jaringan ini juga musti memiliki kedekatan dengan oknum-oknum tertentu yang berpengaruh agar bisnis mereka benar-benar aman. Dengan kata lain, bisnis mereka juga tidak akan mudah tersentuh oleh hukum. Makanya wajar saja, razia yang dilakukan aparat-aparat pemerintah daerah yang di back up penegak hukum sering terjadi tingkat kebocoran tinggi. Pada saat razia, hotel atau tempat hiburan yang didatangi petugas bersih dari para kupu-kupu malam.

Yunita misalnya. Bos wanita panggilan tingkat tinggi yang kini usahanya diberangus Pemda Surabaya, juga memiliki jaringan yang serupa. Sehingga usaha ilegalnya itu, malah mirip usaha resmi dan memberikan kontribusi lumayan bagi kantong-kantong oknum-oknum tertentu. Karena salah langkah saja, maka usahanya ambruk dan kini ia terpaksa meringkuk di tahanan Polwiltabes Surabaya.
Sedangkan di Pontianak, istilah jaringan bisnis prostitusi memang telah dikenal lama pula. Meski tak sehebat di Pulau Jawa, sedikit banyak sistem kerja pelaku jaringan selalu meniru dengan sistem yang ada di pulau Jawa. Jaringan tidak musti melibatkan banyak orang. Cukup beberapa orang yang dianggap mampu melakukan lobi-lobi kepada para pemilik hotel tertentu dan tempat-tempat hiburan yang tersebar di seluruh pelosok Kalbar, agar bersedia menerima wanita-wanita penjaja seks yang mereka tawarkan. “Keuntungan adanya jaringan ini adalah memudahkan dilaksanakannya roling WTS. Sehingga timbul kesan di kalangan pelanggan bahwa para WTS yang dipajang terselubung di hotel-hotel selalu orang baru terus. Sebab bisa saja, para pelanggan akan bosan karena melihat WTS yang itu-itu saja,” ujar Ma, salah seorang mucikari kecil-kecilan kepada Equator. Menurut Ma, yang baru setahun menekuni bisnis prostitusi ini, prosedur membuat jaringan sebenarnya cukup mudah. Yang diperlukan adalah orang-orang yang memang memiliki kedekatan dengan oknum-oknum tertentu, pemilik hotel atau tempat hiburan. Dan yang tak boleh diabaikan adalah kesanggupan bekerja sama dengan dasar saling percaya. Sebab seperti halnya bisnis resmi, pembagian hasil yang jujur amat menentukan kelanggengan operasional jaringan. “Untuk itulah, kita sebelumnya selalu membuat kesepakatan persentase hasil agar tidak ada konflik belakangan hari. Biasanya, 30-50 persen komisi buat sang mucikari akan dibagi fifty-fifty dengan pimpinan jaringan,” ungkap Ma. Diakui atau tidak, peranan jaringan dalam bisnis prostisusi amatlah penting. Sekali jaringan salah langkah atau menempatkan wanita tanpa perhitungan, ambruknya usaha seperti halnya Yunita, sudah pasti didepan mata.

1 comment:

Dell Ung said...

Daripada mengintip mending kita lihat forumiklanbola.com.

Popular Posts