Waspada Jebakan Pelacur Jalanan Parung

Diajak Minum 'Duren Parung', 2 Botol Bir Harganya Rp 500 Ribu

Jakarta - Praktik prostitusi dan warung remang-remang di kawasan Jampang, Kabupaten Bogor sudah berlangsung lama. Usai matahari terbenam para wanita penjaja diri ini berdiri di pinggir jalan yang menghubungkan Kemang-Parung, Bogor.

Mereka melambaikan tangan ke setiap pengendara yang melintas. Kepada pengendara yang berhenti para penjaja cinta alias 'duren Parung' merayu agar mereka mau diajak ke warung-warung . Warung-warung tersebut terletak di dalam gang-gang perkampungan.

Target pelanggan para PSK ini adalah para pengendara yang melintas, baik pengguna sepeda motor maupun pengemudi truk. Dalam aksinya, para wanita ini menggaet para pria hidung belang dan membawanya ke warung remang-remang.

Di sinilah calon pelanggan diajak minum-minuman keras sampai mabuk. Saat itulah para PSK menekan pembeli untuk membayar dengan harga tinggi, meski tak sampai ke melakukan hubungan seks.

“Masih minum-minum saja, entar itu langsung ditembak harga tinggi, bisa Rp 500 ribu untuk dua botol bir. Itu belum ‘main’,” kata Aan Syahputra (bukan nama sebenarnya), seorang warga Parung.

Menurut dia praktik prostitusi warung remang remang sudah ada sejak tahun 1990-an. Namun sejak 2003 jumlah wanita penjaja seks komersial maupun warung remang-remang mulai menurun. “Sebelum tahun 2003 PSK dan warung remang-remang lebih ramai,” kata Aan.

Meski praktik prostitusi di Parung berlangsung secara terang-terangan, sejumlah warga menyebut sangat jarang dilakukan penertiban. Para wanita yang berusia kisaran mulai usia di atas 20 hingga 40 tahun ini tetap bebas beroperasi.

Razia justru dilakukan oleh organisasi masyarakat (ormas) Front Pembela Islam (FPI) setiap menjelang bulan Ramadan.

“Jarang banget ada razia, paling razia waktu pelebaran jalan doang. Kalau FPI tiap mau puasa pasti razia, warung-warungnya dirobohkan,” kata Aan.

Seorang pemilik warung rokok pinggir jalan di kawasan tersebut juga mengatakan hal yang sama. Sangat jarang ada penertiban dari pihak yang berwenang, hanya ormas FPI yang melakukan razia pada saat menjelang Ramadhan.

“Razia petugas paling waktu pas pelebaran jalan saja,” ujar pria yang tidak mau menyebutkan namanya ini.

Front Pembela Islam siap membantu memberantas kegiatan prostitusi di Parung, Bogor yang selama ini belum ditertibkan. FPI juga bersedia menampung serta membimbing masyarakat dan pekerja seks komersial yang sudah terlanjur masuk dunia prostitusi.

Humas Lembaga Dakwah Dewan Pengurus Pusat FPI Ustadz Novel Bamu'min mengatakan pihaknya siap berkoordinasi dengan pengurus FPI wilayah Bogor untuk melakukan upaya penertiban. Tapi, upaya ini tentunya FPI perlu berkoordinasi dengan pihak yang berwenang dan tokoh masyarakat setempat.

"Kami siap perangi, bantu berantas di Parung kalau diminta. Kami juga siap bantu bimbing PSK-PSK sama onum masyarakat soal agama," kata Novel saat dihubungi, pagi tadi.

Jebakan Perempuan Nakal, Sudah Bugil Masuk Preman


Bogor - Wanita penjaja cinta yang tertebaran di warung remang-remang di kawasan Parung, Bogor, tidak ada satu pun yang bersedia langsung dibawa menuju tempat penginapan atau yang lainnya. Tapi mereka mengajak calon pelanggan untuk mampir ke warung atau kontrakannya. Alasannya, untuk bersantai sembari menikmati berbagai jenis minuman seperti bir.

Bahkan, di antara mereka ada yang tidak mematok tarif layanan seks, asalkan calon konsumen bersedia mampir minum terlebih dahulu. “Untuk ‘mainnya’ terserah Abang berapa aja, yang penting minumnya,” ujar Yuni -nama samaran-, salah seorang perempuan yang biasa mejeng di pinggir jalan saat menawarkan diri.

Wanita berkulit putih ini mengaku tidak bisa jika dibawa ke tempat lain sebab memiliki bos yang menjadi atasannya. Jika ingin membawanya ke tempat lain, calon konsumen harus terlebih dahulu menemui sang bos yang berada di warung. “Warungnya deket kok,” ujarnya seraya menunjuk arah ke belakang.

Salah satu korbannya, sebut saja Fandi, mengisahkan, kejadian tersebut terjadi pada 2011 lalu. Ketika sampai di kawasan Jampang, ia melakukan transaksi seks dengan seorang perempuan yang mangkal. Setelah tawar-menawar, tarif seks akhirnya disepakati sebesar Rp 150 ribu untuk short time.

Namun, pada saat ia tengah "menikmati malam" dan sudah dalam keadaan tak berpakaian, tiba-tiba dua orang pria masuk ke dalam kamar memeras barang yang ia bawa.

"Pas masuk kosan dan udah bugil. Tiba-tiba masuk dua orang laki-laki. Mereka ngakunya ronda, langsung ngancem, kalau gak mau dilaporin polisi, minta uang damai. Alasan mereka mergokin, katanya karena itu kosan khusus cewek dan gak biasanya ada motor. Reaksi cewek itu kayak gak kaget sama sekali," ujar Fandi yang mengaku merasa dijebak kepada detikcom.

Fandi melanjutkan, karena dalam keadaan takut dan diancam bakal dilaporkan ke polisi, ia akhirnya menyetujui permintaan dua preman itu untuk memberi uang damai.

Namun, kedua lelaki tersebut justru memalak, dan membawa paksa seluruh barang Fandi berupa dompet berisi uang sebesar Rp 1,2 juta, ponsel Blackberry, dan ransel ukuran sedang.

Dibawa Pelacur ke Kosan, Pas Pintu Dibuka Ada 3 Cowok

Bogor - Lain Fandi, lain pula Fahdi. Namun kedua laki-laki yang namanya disamarkan ini sama-sama mempunyai pengalaman pahit ketika "bermain" dengan perempuan yang saban malam menjajakan tubuh di sepanjang Jalan Raya Parung-Bogor.

Fahdi, 25, terbilang masih beruntung ketimbang Fandi yang duit, Blackberry, dan tasnya dirampas preman yang masuk ke kamar pelacur Parung ketika sedang indehoy.

Fahdi mengaku juga hampir menjadi korban pemerasan di kawasan tersebut, namun berhasil melarikan diri. Fahdi menceritakan, pada 2011 lalu, ia baru kembali dari Bandung, dan sampai di kawasan Jampang, Parung, menjelang tengah malam.

Setelah bertransaksi dengan salah satu wanita di pinggir jalan Parung, mereka pun bergerak menuju kamar kontrakan. "Cewek itu gak mau diboncengin waktu masih di jalan. Pas sudah di gang, baru dia mau dibonceng," kata Fahdi mengungkapkan.

Fahdi melanjutkan, waktu mereka berdua sampai di deretan kamar kos-kosan tampak sekitar 8 kamar kosan di tempat itu. Wanita yang diboncengnya kemudian turun. Sementara ia masih berada di atas motor. "Katanya si cewek di situ tempat mainnya."

Nah pada saat pintu terbuka, ternyata di dalam kamar berukuran kecil tersebut sudah ada tiga orang pria. "Pas dia buka pintu kosannya langsung kelihatan ada tiga cowok nunggu di situ, kamarnya kecil, langsung kelihatan kasurnya juga," katanya.

Fahdi mengaku beruntung belum turun dari motor. Melihat ada tiga cowok di dalam kamar, ia langsung menyalakan sepeda motornya dan tancap gas melarikan diri.

"Untung saya belum turun dari motor. Langsung kabur saya. Saya pernah dengar cerita dari teman yang pernah jadi korban, kirain cuma satu tempat, nggak taunya rata-rata di situ kayak gitu semua (modusnya)," kata dia dengan nada kesal.

Sementara itu Direktur Institut Inovasi Sosial Indonesia, Arifin Purwakananta, yang tinggalnya di dekat daerah Parung, mengatakan persoalan warung remang-remamng di Parung juga terkait dengan tindak kriminal penipuan dan pemerasan.

Pasalnya, banyak kejadian lelaki yang ingin menggunakan jasa seks wanita nakal malah menjadi korban perampasan duit oleh preman-preman.

Ia menceritakan para pelacur itu tugasnya menjebak pengendara sepeda motor, mobil, hingga sopir truk. Bila berhasil disetop, wanita nakal ini akan menggiring orang tersebut sebagai korban ke warung atau kontrakan yang tidak jauh dari pinggir jalan. Dengan segala rayuan dan pakaian busana minim, rata-rata korban terbuai.

Setelah ditemani minum dan makan dengan wanita nakal itu, korban akan dipatok dengan harga mahal hingga sepuluh kali lipat. “Bisa ada seks dan tidak. Kalau diperas, korban harus bayar makanan dan minuman softdrink yang murah ditembak harga mahal. Itu biasanya ada preman yang bantu meras. Itu modusnya,” kata Arifin

About Blogger

Jakarta Sex and Mystery Magazine "JakartaBatavia Magz" - Enjoy and Relax here.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :